Rumah Pribadi Bupati Muaraenim Digeledah KPK 5 Jam

SUMSEL – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Rabu malam menggeledah rumah pribadi Bupati Muaraenim Ahmad Yani di Kota Palembang. Penggeledahan berlangsung sekitar lima jam.

Usai menggeledah rumah Bupati, KPK keluar membawa satu koper, yang dibawa dua orang penyidik KPK. Koper sebesar 20 inchi berwarna silver tersebut langsung diangkut ke mobil bernomor polisi BG 1752 NQ.

Dua penyidik KPK yang dikawal dua anggota Brimob bersenjata tersebut langsung meninggalkan lokasi serta tidak memberi keterangan apapun kepada wartawan yang telah menunggu lama.

Anggota keluarga Bupati juga tidak terlihat ada yang keluar. Usai penyidik KPK keluar hanya asisten rumah tangga yang keluar menutup pagar rumah di Jalan Inspektur Marzuki Lorok Pakjo Palembang tersebut.

Sebelum menggeledah rumah bupati Ahmad Yani yang kini berstatus tersangka korupsi, penyidik KPK terlebih dahulu memeriksa kantor pengusaha Robi Okta Fahlefi di Jalan Gajah Mada nomor 8B Kelurahan Talang Semut Kecamatan Bukit Kecil, Palembang.

Sehari sebelumnya KPK telah menetapkan tiga tersangka kasus korupsi di lingkungan Dinas PUPR Muaraenim dalam Operasi Tangkap Tangan di Kota Palembang dan Kabupaten Muaraenim, Selasa (3/9/2019).

Ketiga tersangka adalah Robi Okta Fahlefi sebagai pemberi dari unsur swasta atau pemilik PT Enra Sari, kemudian Bupati Ahmad Yani sebagai penerima, dan Kepala Bidang pembangunan jalan dan PPK Dinas PUPR Kabupaten Muara Enim, Elfin Muhtar (EM).

Dari hasil penyelidikan, KPK mengamankan uang 35 ribu dolar AS yang diduga sebagai bagian dari “fee” 10 persen yang diterima Ahmad Yani dari Robi Okta.

KPK juga secara resmi telah menahan Bupati Muara Enim Ahmad Yani bersama dua orang lainnya yang telah ditetapkan sebagai tersangka kasus suap proyek-proyek pekerjaan di lingkungan Dinas PUPR Kabupaten Muara Enim tersebut.

Diduga suap itu terkait dengan 16 proyek peningkatan pembangunan jalan di Kabupaten Muara Enim. Dalam konstruksi perkara disebutkan bahwa pada awal 2019, Dinas PUPR Kabupaten Muara Enim melaksanakan pengadaan pekerjaan fisik berupa pembangunan jalan untuk Tahun Anggaran 2019.

Dalam pelaksanaan pengadaan tersebut, diduga terdapat syarat pemberian “commitment fee” sebesar 10 persen sebagai syarat terpilihnya kontraktor pekerjaan.

Robi merupakan pemilik PT Enra Sari perusahaan kontraktor yang bersedia memberikan “commitment fee” 10 persen, dan pada akhirnya mendapatkan 16 paket pekerjaan dengan nilai total sekitar Rp130 miliar.***

Share