Tren swafoto atau selfie telah menjadi bagian dari gaya hidup digital masyarakat modern. Namun, tanpa disadari, banyak orang cenderung memilih sisi kiri wajah saat berfoto. Fenomena ini bukan sekadar kebiasaan, melainkan memiliki penjelasan ilmiah yang berkaitan dengan psikologi, ekspresi emosi, hingga cara kerja otak manusia.
Sejumlah penelitian mengungkap bahwa kebanyakan orang secara alami lebih sering menampilkan sisi kiri wajah ketika berfoto selfie. Hal ini disebut sebagai “left-side bias” atau kecenderungan memperlihatkan sisi kiri wajah karena dinilai lebih menarik secara visual dibanding sisi kanan.
Dari sudut pandang sains, sisi kiri wajah dianggap lebih ekspresif. Hal ini berkaitan dengan fungsi otak kanan yang mengontrol emosi dan ekspresi wajah, sehingga ekspresi seperti senyum, kebahagiaan, atau emosi lainnya sering tampak lebih kuat di sisi kiri wajah.
Penelitian yang menganalisis ribuan foto selfie di media sosial juga menemukan bahwa persentase swafoto yang menampilkan sisi kiri wajah lebih dominan dibanding sisi kanan maupun foto frontal. Temuan ini memperkuat dugaan bahwa manusia secara tidak sadar memilih sudut yang dianggap paling estetis.
Selain faktor neurologis, persepsi visual juga berperan penting. Dalam studi psikologi, partisipan cenderung menilai foto wajah sisi kiri lebih menarik, bahkan ketika gambar tersebut dibalik secara cermin. Artinya, preferensi terhadap angle kiri tetap konsisten meskipun orientasi gambar diubah.
Penjelasan lainnya berkaitan dengan ekspresi emosi yang lebih intens di sisi kiri wajah. Peneliti menyebut bahwa emosi yang lebih kuat membuat wajah tampak lebih hidup dan menarik, sehingga secara sosial lebih disukai ketika difoto atau dilihat orang lain.
Fenomena ini ternyata tidak hanya terjadi di era digital. Dalam sejarah seni lukis, banyak potret klasik juga menampilkan sisi kiri wajah model. Hal ini menunjukkan bahwa kecenderungan memilih angle kiri sudah ada jauh sebelum budaya selfie populer di media sosial.
Dari sisi psikologis, kebiasaan memilih angle tertentu juga bisa dipengaruhi oleh pengalaman pribadi. Ketika seseorang merasa terlihat lebih baik dari sisi kiri, otak akan membentuk preferensi visual dan mengulang pose yang sama dalam setiap foto.
Faktor pencahayaan dan simetri wajah juga ikut memengaruhi hasil foto. Karena wajah manusia tidak sepenuhnya simetris, satu sisi bisa tampak lebih proporsional dibanding sisi lainnya, sehingga terlihat lebih fotogenik di kamera.
Meski demikian, para ahli menegaskan bahwa tidak ada aturan baku soal sudut terbaik saat selfie. Setiap orang memiliki struktur wajah berbeda, sehingga angle yang paling menarik bisa bervariasi antara individu.
Dengan memahami alasan ilmiah di balik kecenderungan angle kiri saat selfie, pengguna media sosial dapat lebih sadar dalam menentukan pose terbaik. Bukan sekadar tren, pilihan sudut foto ternyata berkaitan erat dengan psikologi visual, ekspresi emosi, dan cara otak manusia memproses wajah secara estetis.











